Jumat, 16 Juli 2010
Doa Pengharapan
Ku ingin pengharapan yang menyesak ini
menyeruak mekar
lalu aku memetiknya
dan membingkainya menjadi sejarah
yang tak hanya sebagai pewarna diri
tapi, aromanya semerbak dan tercium mereka
agar menjadi sejarah-sejarah baru
tidak hanya untukku
tapi untuk kami
Amiin!
Selasa, 02 Desember 2008
Tentang Kerikil
Kuingin menyeruak pesona biru
Kuingin kerikil yang terserak bukan jadi
penghalang
tapi ia jadi penegur sapa yang lucu
Pengingat yang tak menyakiti
Gemericiknya semoga memadu irama yang syahdu
Memperindah perjalananku
Mengantarku ke tujuan
Memberiku pelajaran
Jumat, 28 November 2008
10 Hari ke Depan
Aku ingin tumbuh kuncup baru
Aku ingin ada yang mekar bersemu
Aku akan tuntaskan dahagaku
Mengoyak pasung yang membelenggu
Menghirup kemerdekaan yang sungguh
Aku ingin menyapa
Menyapa kebebasan yang kutunggu
Selasa, 04 November 2008
RINDU YANG LAKNAT
Kelam pun menyesak
Terdiamku tak bergerak
Mengutuki waktu yang tak segera beranjak
Melawan ruang angkuh yang menyekat,
Laknat!
Yogya, 3 November 2008
Selasa, 22 Juli 2008
Sang Calon Penguasa
Menebar nama sampai pelosok
Hembuskan aroma wangi sesaat
Menebar jala-jala dengan umpan beribu janji
Menjerat,
Mengikat untuk satu tujuan
Hamburan rupiah adalah upeti
Sekilo gram beras adalah patri
Aspal hitam dan lampu penerang adalah janji
:Demi sebuah kursi
Kursi ajaib yang rembeskan madu
Kursi yang berimu wewenang
‘tuk makan aspal jalan raya
‘makan tanah rakyat yang kau tukar dengan harga murah
‘makan tiang-tiang beton, mobil mewah, rumah megah,
dan apapun yang kau tunjuk dengan jari kuasamu
Wahai…Sang Calon Penguasa
Mimpi apa engkau hari ini
Mengapa baru sekarang kau buka hati
Kemana saja kemarin engkau bersembunyi
Tiba-tiba kau buka pundi-pundimu
Kau semburkan janji-janjimu
Dengan tiba-tiba!
Dengan tiba-tiba!
Apa benar jika terpilih nanti
Engkau tetap sowan pada yang papah?
Engkau ulurkan tangan untuk yang tengadah?
Engkau antar sekilo beras kepada yang tengah berjuang
menyambung nyawanya
Engkau datang untuk hibur hati si tua renta?
Engkau berjalan kaki susuri becek jalan berlubang tuk antar sumbangan?
Atau…, engkau akan tertunduk lekat di kursi pengikat?
Dikitari wajah-wajah sangar penjilat yang menagih janji
atas kemenanganmu
Sebab, mereka telah menyokongmu dengan segala daya,
tipu daya, bila perlu dengan buta mata
Mereka datang minta jabatan,
Mereka datang minta segebok uang,
Mereka datang agar tendernya menang,
Mereka datang…menggerogotimu seperti anjing berebut tulang
Dan…, engkau pun tak berdaya
Sebab, jasa harus dibalas jasa
Hutang janjimu harus terlunasi
Meski, rakyatmu manangisi
Sebab, ternyata kau tak seputih dan seelok tatkala dulu berorasi
Bontang, 31012008
Rabu, 09 April 2008
Tentang Pintu Kita (untuk sahabat)
Ada yang menyeruak sesak
Saat pintu perpisahan
telah dibuka
Dan pintu pertemuan
telah ditutup
Maka sosokmu lenyap
hilang
Yang tersisa hanya
Sebuah lukis imajiner tentang siluetmu
yang kugores pelan
depan pintumu,
pintuku,
pintu kita,
pintu yang pada saatnya juga aku tutup
dan cerita tentangnya akan semakin buram
Sebab,
Kau kan buka pintumu di sana
Ku kan buka pintuku di sini
Semoga,
Pintu hati masih terbuka
Meski pintu yang beri celah buat kita
untuk bertatap akan tertutup rapat
Sebuah pintu berterali,
yang angkuh dan sombong
Yogya, 9 April 2008
Senin, 07 April 2008
Engkau Kabulkan doaku Rabb…
Saat nikmat merasuk kalap
menggiyur beringas tepat depan mata
berkelebat-kelebat membabat tali jiwa dan raga
Dan, tak ada lagi tirani tuk meretasnya menjadi serpihan
yang melenakan sukma
Kau cabut gelegak rasa itu seketika
Kau bungkam dan tampar aku dengan indah
Kini, ku pun semakin paham bahwa Engkau teramat mencinta
Kamis, 27 Maret 2008
RINDUKU
Abdul Hakim
Saat gelisah menyeruak
Menampar-nampar, terserak
Menelanku mentah-mentah
Resah terdalam menyudutkan
Gulir bening menetes, sekarat
Melemparku ke puisi tanpa isi
Sebab, ia sekadar menyesak tak terkata
Yogya, 28 Maret 2008
KOBAR HATI
Abdul Hakim
Bara merahmu tersulut pekat, panas
Bergemuruh dan bergemeretak, beringas
Terkoyak, rapuh, lebur, luluh lantak
Menghancurkanmu, menghancurkannya sontak
Abumu menggelepar, menghambur, melukis hitam
Kau buat pelangi indah menjadi semburat tak berwarna, kelam
Yogya, 27 Maret 2008
TOPENG BURAM


Abdul Hakim
Berkelebat-kelebat
Misterius
Menatap nanar
Menyeruak di sudut-sudut samar
Menyusup ke ruang-ruang,
Tanpa jejak
Tak terdeteksi
Menyanyikan lagu cemas
Menggoreskan luka
Berdarah
Membekas
Meski tak jarang topengmu manis
dan memesona
Tapi kau tetap tersembunyi, gelap
Menyeringai
Yogya, 25 Maret 2008
Gift topeng by motivasimindamu.blogspot.com
Rabu, 27 Februari 2008
Saat Jenuh Menyergap
Tentang hal di atas, hari ini saya mengalaminya…..sampai terkantuk-kantuk…ingin rasanya kubunuh waktu yang tak beranjak secepat yang aku ingin…Dalam suasana kantuk yang kagak nahan, kutulis puisi jelek berikut! Judulnya:
Ingin Kubunuh Waktu
Menapaki waktu yang tak berbuah
Adalah menatap langit mendung tebal, hitam
Berarak tak beri rona warna cerah
Pekat, lekat!
Tapi, ia harus kulahap
Karena tak ada lagi pilihan yang tepat
Meski aku mulai sekarat.
Yogya, 25 Pebruari 2008
Jumat, 01 Februari 2008
Sang Calon Penguasa
Menebar nama sampai pelosok
Hembuskan aroma wangi sesaat
Menebar jala-jala dengan umpan beribu janji
Menjerat,
Mengikat untuk satu tujuan
Hamburan rupiah adalah upeti
Sekilo gram beras adalah patri
Aspal hitam dan lampu penerang adalah janji
:Demi sebuah kursi
Kursi ajaib yang rembeskan madu
Kursi yang berimu wewenang
‘tuk makan aspal jalan raya
‘makan tanah rakyat yang kau tukar dengan harga murah
‘makan tiang-tiang beton, mobil mewah, rumah megah,
dan apapun yang kau tunjuk dengan jari kuasamu
Wahai…Sang Calon Penguasa
Mimpi apa engkau hari ini
Mengapa baru sekarang kau buka hati
Kemana saja kemarin engkau bersembunyi
Tiba-tiba kau buka pundi-pundimu
Kau semburkan janji-janjimu
Dengan tiba-tiba!
Dengan tiba-tiba!
Apa benar jika terpilih nanti
Engkau tetap sowan pada yang papah?
Engkau ulurkan tangan untuk yang tengadah?
Engkau antar sekilo beras kepada yang tengah berjuang
menyambung nyawanya
Engkau datang untuk hibur hati si tua renta?
Engkau berjalan kaki susuri becek jalan berlubang tuk antar sumbangan?
Atau…, engkau akan tertunduk lekat di kursi pengikat?
Dikitari wajah-wajah sangar penjilat yang menagih janji
atas kemenanganmu
Sebab, mereka telah menyokongmu dengan segala daya,
tipu daya, bila perlu dengan buta mata
Mereka datang minta jabatan,
Mereka datang minta segebok uang,
Mereka datang agar tendernya menang,
Mereka datang…menggerogotimu seperti anjing berebut tulang
Dan…, engkau pun tak berdaya
Sebab, jasa harus dibalas jasa
Hutang janjimu harus terlunasi
Meski, rakyatmu manangisi
Sebab, ternyata kau tak seputih dan seelok tatkala dulu berorasi
Bontang, 31 Januari 2008
Rabu, 30 Januari 2008
29 Januari
Ini hari kita
Delapan tahun yang lalu
Ini hari kita
Saat puluhan pasang mata
tertuju kepada kita
Ini hari kita
Saat berpasang-pasang telinga khidmat
mendengar ikrar yang tertumpah
Ini hari kita
Saat hasrat menyatu
dalam ikatan sakral nan syahdu
Ini hari kita
Kebahagiaan disaksikan senyum lucu
bocah kecil yang kini menguasai hati
Semoga bintang, bulan, dan matahari
tak redup sepanjang perjalanan kita
Bontang, 29 Januari 2008
Rabu, 23 Januari 2008
Sudut
Di sudut temaram
Aku tersudut
Meratap
Sebab, kutemui sudut-sudut hidup
yang pekat
Ingin kutatap sudut baru
agar horison pandangku tak lagi samar
Sudut-sudut yang memungkinkanku
melihat celah baru akan sudut-sudut lainnya
Sudut-sudut yang kan kurangkai menjadi ruang
yang lebih bermakna,
lebih indah!
Bontang, 23 Januari 2008
Senin, 07 Januari 2008
Tentang Bulir Bening Nandaku
Jumat, 07 Desember 2007
HANYUT
Sesaat menggeleparku terkesima
Telanjangi wajahmu yang innocent
Menggiringku ke labil jiwa
Berarak tak terkendali, meletup-letup
Mendobrak, terhenyak
Tatap dengan batin
Agar resonansinya getarkan nafas dan jiwamu
Yang tengah berceloteh riang tepat di depanku
Bontang, 8 Desember 2007
Jumat, 09 November 2007
CINTA TAK BERSYARAT
Senin, 24 September 2007
Puisi: Sesakku
Mengapa pekatnya hati
tak juga bening?
Ya Robbi...
Mengapa sesal yang sama
masih juga terulang?
Ya Penguasa Semesta...
Mengapa gumpalan darah kecil ini
tak juga mampu
menjadi pengendali diri?
Ya Rahman...
Kuak s'gala retak yang
menimbun pelangi qolbi
Ya Rohiim...
Jaga hati ini agar hitam yang
menyesak
tak porandakan
dan jebakku
dalam pembalasanmu yang
penuh bara
Amin!
Bontang, 10 Oktober 2006
07.45
Abdul Hakim
Model Badax, photo by kiem, lokasi Masjid Attiin TMII
Termuat juga di http://www.smpypk.com/
Puisi: Terbang
Bontang, 6 Oktober 2006
Hutan Ilalang
.jpg)
Deret pepohonan yang dulu menyesak
Kini t’lah usai ceritanya
Belukar yang dulu menghimpit
Kini t’lah tinggal akarnya
Batang besar yang dulu menjulang
Kini tinggal bongkah hitamnya
Tingkah lucu binatang dan suara-suaranya yang riang
di antara bunga-bunga liar yang bermekaran
Kini hanya tersisa di lembar-lembar buku cerita
Aduhai....
Wajahmu kini muram
Penggantimu adalah rimbun ilalang
Aduhai...
Semoga bencana tak menjelang
Meski kini hutanku, hutan ilalang
Bontang, 27 Agustus 2007
Abdul Hakim

.jpg)