Tampilkan postingan dengan label Resensi Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Film. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 November 2008

Fakta-Fakta Laskar Pelangi


Berikut adalah tulisan saya yang kesekian tentang Laskar Pelangi. Baik novel maupun versi film, LP begitu memberi kesan positif bagi saya, luar biasa. Nah, bagi Anda yang suka juga, berikut ada 25 fakta dari Laskar Pelangi yang saya download dar http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1154157. Meski saya tidak tahu seratus persen keakuratannya, tapi sebagai bahan referensi, atau sekadar menjawab keingintahuan Anda, informasi berikut perlu Anda baca. Agar lebih lengkap, tentu Anda (saya juga masih membaca-baca dari berbagai sumber) mencari dan membaca informasi-informasi lainnya. Kalau sudah dapat, jangan lupa di-share ya.... Sedikit saya beri komen dari fakta-fakta yang ada. Mo kemen juga? Silakan!!

Fakta fakta Laskar Pelangi adalah sebagai berikut.

1. Nama panggilan dari Andrea Hirata pada saat kecil adalah "andis","Ikal" adalah nama panggilan Andrea di novel.

2. Royalti Film Laskar Pelangi yang didapat dari Andrea adalah sekitar Rp 350 juta.

Komen saya: *Andai benar segitum saya rasa bukan harga yang mahal untuk sebuah novel kesohor sekelas LP. Bahkan, Andrea layak mendapat lebih dari itu, mengingat film LP masih nongkrong samapai saat ini, dan tetap harus ngantri untuk menontonnya. Saat saya tulis ini, LP sudah tayang sekitar sebulan sepuluh hari (40 hari). Dahsyat man...!*


3. Andrea Hirata dalam suatu kesempatan menyatakan bahwa dirinya bukan sastrawan, benar-benar tidak berpengalaman, tidak berpendidikan sastra, tidak bergaul dengan orang-orang sastra, tidak bercita-cita menjadi sastrawan. Lebih parah lagi, tidak banyak membaca sastra.

Komen saya: "Nggak penting labelnya, yang pasti mak nyoss novelnya!"

4. Film Laskar Pelangi sepanjang 2 jam 5 menit yang memakan ongkos Rp 8 miliar.

Komen saya: "Dua jam dua menit bagi saya terasa kurang, mestinya tiga jam, hehe...! Jangan lupa sekuelnya dibuat lagi ya Mira & Riri!"

5. NAMA Laskar Pelangi adalah sebuah nama pemberian sang guru, Bu Muslimah.

Komen saya: "Nama yang keren. Pas banget dengan keberagaman kesepuluh anaknya".

6. Sekarang Bu muslimah yang asli mengajar di Sekolah Dasar Negeri 6 Gantong dan sedang menunggu pensiun.

Komen saya: "Dia layak mendapatkan gelar kehormatan sebagai seorang yang menginspirasi banyak orang tentang arti perjuangan dan keihklasan".

7. Selama 10 hari pemutaran film itu sudah meraih penjualan 1,1 juta penonton.

Komen saya: "Percaya banget...! Dirilis dong, sekarang udah berapa jumlahnya. Jadi penasaran pengen tahu".

8. 3.800 calon pemain dieliminasi menjadi 1.350 anak hingga akhirnya menjadi 12 pemain yang semuanya asli dari Belitung, 11 Anak normal dan 1 anak penderita Down syndrome.

Komen saya: "Casting yang pas. Keren! Tapi untuk anak-anaknya lo...., tidak untuk Rieke (Ibu Ikal) dan Lukman Sardi (Ikal dewasa). Baca juga tulisan saya tentang Rieke dan Lukman di Resensi Film".

9. Film Laskar Pelangi dibuat hanya dengan 36 hari Syuting.

10. Andrea Ingin setiap 2 Mei Film Laskar Pelangi Diputar secara Gratis, dan dia pernah berkata "Filmnya lebih bagus dari novelnya.."

Komen saya: "Setuju...! Sampe beberapa tahun ke depan, tetep up to date kayaknya karena begitulah kondisi Indonesia, terutama yang di pelosok-pelosok".

11. Penulis skenario FILM Laskar pelangi, yaitu Salman Aristo juga penulis skenario Film Ayat-Ayat Cinta.

12. RIRI Riza sebelumnya akan menggunakan Yogi Nugraha pemeran kucai untuk dijadikan pemeran mahar, hingga datang Verrys Yamarno yang datang dengan gaya baju Mahar. Jalan sambil cium ketiak, lalu teriak: bau cuka! bau cuka! Lalu dia menyanyi.

Komen saya: "Dan...., Verrys benar-benar pas..! Bukannya yang berperan menjadi Kucai jelek, bukan... Dia juga pas banget menjadi Kucai".

13. Verrys Yamarno, pemeran Mahar yang jago kesenian ini ingin menjadi ustad. Cita-citanya adalah masuk ke Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur, atau Universitas Al Azhar di Mesir. "Saya ingin membuat orang jahat menjadi baik," ujarnya.

"Amiiiiiiiiiiin...!"

14. Ferdian,Pemeran Lintang mempunyai cita-cita melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia atau Universitas Gadjah Mada.

"Amiiiin...."

15. Zulpani Fasa, 12 tahun, pemeran Ikal alias Andrea Hirata di masa kecil mempunyai cita-cita Menjadi tentara. Bisa membela negara," katanya.

"Siap komandan! Amiiin!"

16. Mahar asli jadi PNS, guru kesenian di SMA Negeri 2 Tanjung Pandan, diam2 sempat mengantarkan anaknya ikut casting tapi gak lolos. Mira Lesmana nggak tau kalo Mahar ada di antara ortu yang ngantar anaknya ikut casting, baru setelah Mahar pulang ada yg bilang ke Mira.

"Tercapai tuh cita-citanya..."

17. Aslinya Flo ini adek kelas Andrea, yang sekelas itu kakak laki2 Flo (kakaknya jg pindah dr SD PN), tp sang kakak ini tidak diceritakan ama Andrea. Flo ini asli anak pejabat PN yg tidak mau skolah di skolah PN.

18. Syahdan salah satu anggota laskar pelangi yang sekarang menjadi konsultan IT adalah yg diam-diam membawa naskah LP ke penerbit tanpa Andrea tau.

"Berjasa bangeet...! Saya ikut hatur 'matur tangkyu ya...!"

19. Aman alias Akiong pernah menyebutkan bahwa menurutnya Laskar Pelangi: Chandra Prana, Syahdan Wahyudi, Alpino, Iwan, Ahmad Fajri, Andrea Hirata, dan satu nama perempuan, Hartati. Yang disebut Mahar dan Samson, kata Aman, bisa jadi Ahmad Fajri-sekarang guru di SMA Negeri 2 Tanjung Pandan-dan Alpino. Sedangkan Lintang? "Saya hanya tahu ini. Kalau Lintang, tanya Andis," ujarnya sambil tersenyum.

"Saya jadi penasaran juga neh.... Ada yang tahu faktanya nggak????"

20. Harun Karena cacat mental sekarang di rumah saja, menemani ibunya. Harun sering datang ke lokasi syuting, lalu dia cerita: "tadi lihat syuting film, ada Andis ".

21. Sempat syahdan dan Kucai asli ditanya wartawan siapa yg paling pintar di kelas, berdua serempak jawab: ANDIS!( kenapa bukan lintang??? Tanya kenapa? ):? Bahkan Bu Mus ketika ditanya siapa Lintang? Dia menjawab "saya tidak ingat, siapa lintang?"(mungkinkah jika Bu Mus tidak ingat, anak sejenius lintang?)

"Sepertinya ada yang dirahasiakan neh......! Bikin penasaran lagi. Bongkar dong...! Hehe..!"

22. Saat di Kick Andy, Andrea menyebutkan bahwa foto tersebut tidak detil, yaitu Syahdan (jongkok, kanan), Sahara (satu2-nya cewek)
Pada waktu itu para penonton langsung histeris, "LINTANG, YG MANA???"
Dan Andrea dgn cool bilang, "Rahasia..."

"Padahal, saya juga penasaran banget......! Please dong, Ikal, jelasin....!"

23. Riri Reza berhasil menjinakkan "keganjilan" pada beberapa bagian novel Andrea. Mahar yang mengagetkan Bu Mus dengan tiba-tiba menyanyikan Tennessee Waltz karya Anne Murray dan "si jenius" Lintang yang berdebat hebat tentang cincin Newton dalam lomba cerdas cermat "dibumikan" Riri menjadi adegan yang lebih wajar bagi seorang anak. Riri mengganti Tennessee Waltz dengan Bunga Seroja, yang justru memperkental roh Melayu ke dalam film. Dan untuk adegan lomba cerdas cermat itu, secara tak terduga Riri mengubahnya menjadi drama yang menggetarkan.

"Salut...!"

24. Tokoh Pak Mahmud yang ditampilkan oleh Tora Sudiro, menghapus seluruh tato di tangannya dengan "dempul" make-up, sebenarnya di Novel, Pak Mahmud adalah tokoh antagonis tapi di Film menjadi tokoh yang membela SD Muhammadiyah saat Cerdas Cermat.

"Kalo nggak.... jadi kebayang Tora di Extravaganza, pas jadi sinden kemayu, brewok dan bertato, hihi....!"

25. Buaya dari Film Laskar Pelangi meminjam buaya dari Museum Pemkab Belitung (dibayar berapa ya buayanya? )

"Syukur, buayanya nurut. Iya tuh, dia dapat kompensasi nggak?? Tapi kalo mau buaya darat, ya pinjem sama Maia aja...!"

BRAVO!

Jumat, 31 Oktober 2008

Foto-Foto Laskar Pelangi (1)



m


Berikut adalah beberapa gambar film dan tokoh dalam fil Laskar Pelangi.

Yang Luar Biasa dan yang Menjadi Best Moment dalam Film Laskar Pelangi (3)


Meski selepas Idul Fitri kami telah menonton film LP di Samarinda, saat saya kembali ke Yogya, beberapa waktu yang lalu, saya menontonnya lagi. Ada magnet positif yang membuat saya tertarik untuk menikmati film tersebut. Meski harus ngrantri lagi, tapi tak apalah.

Hampir keseluruhan film ini menarik, tetapi tetap saja ada beberapa momen yang paling berkesan buat saya dan beberapa hal yang saya anggap luar biasa. Mungkin, buat Anda, momen yang berkesan bisa sama dengan saya atau berbeda. Tidak menjadi maslah karena setiap orang punya nilai rasa yang berbeda-beda. Berikut beberapa beberapa hal yang luar biasa dan best moment menurut saya dari film Laskar Pelangi.

Beberapa hal yang luar biasa dari film LP, di antaranya:

1. Akting sepuluh pemain 'laskar pelangi'tampak sangat natural dalam membawakan perannya. Terasa semakin hebat karena sebenarnya mereka adalah anak-anak kampung Belitong yang sebelumnya tidak pernah bersentuhan dengan dunia film. Apalagi trio Ikal-Lintang-Mahar, T-O-P-B-G-T!
2. Akting dan karakter Pah Harfan, keren banget.
3. Usaha Cut Mini untuk lebur dalam perannya sebagai Bu Muslimah patut diacungi jempol.

Beberapa momen spesial dalam film LP, di antaranya:

1. Saat Bu Mus keluar dari ruang kelas dan izin kepada Pak Harfan (Ikranegara) untuk mencari satu calon siswa lagi agar genap sepuluh sebagai penentu yang disyaratkan bagian pendidikan saat itu (semacam penilik pendidikan) bagi dibukanya sebuah kelas baru, yakni minimal sepuluh siswa. Bu Mus terenyuh dan berteriak girang ketika dari jauh dilihatnya salah satu calon murid, agak keterbelakangan mental, yaitu Harun. Dalam novel LP, Andrea menyebutnya sebagai 'juru selamat'.
2. Saat Ikal terperangah dan jatuh hati melihat Aling di Toko Harapan Kita. Dari balik lubang dimana Ikal mengambil kapur, lalu kotak kapurnya terjatuh, maka sesaat Ikal dapat menikmati wajah oriental Aling. Dan, bunga-bunga pun berjatuhan... (romantis abiss...!).
3. Ketika Ikal meratapi kesediannya ditinggal Aling kemudian Mahar menyanyikan Bunga Seroja diiringi teman-temannya. *Haru dan lucu...!*
4. Detik-detik dimana Lintang menjelaskan dengan cara menuliskan dan menjawab soal matematika yang oleh dewan juri sebelumnya jawaban Lintang disalahkan. Dan, ketika juri meminta maaf dan menyatakan SD Muhammadiyah menjadi pemenang dengan mengalahkan SD PN Timah, wuih.. terasa ikut terenyuh, bahagia, senang, dan lega melihatnya. Anak yang cerdas, luar biasa.
5. Saat Bu Mus dihadapkan pada kenyataan Pak Harfan telah meninggal dengan cara terduduk di meja-kursi ruang guru. *Kerasa bagaimana Bu Mus begitu oleng dan terpukul...!*
6. Saat Lintang berpamitan kepada Bu Mus dan sepuluh LP. Lintang akan meninggalkan sekolah tersebut untuk kemudian bekerja menghidupi ketiga adiknya dengan menjadi nelayan karena orang tua satu-satunya, bapaknya, meninggal dunia. Saat Lintang mengayuh sepeda Bu Mus menangis dan anak-anak bersedih, Ikal mengejar Lintang yang bergegas pergi, Ikal terhenti, ratapnya pilu, tangisnya pun pecah. Masya-Allah, sebuah perpisahan yang menyedihkan. Terlebih membayangkan Lintang yang masih kecil, belum lulus SD, akan bertanggung jawab dan menghidupi ketiga adiknya.

Itulah beberapa hal luar biasa dan best moment dari film LP. Sejujurnya semua menarik. Oleh karena itu, ssst.., jangan heran kalau, film ini membuat rekor penting dalam sejarah 'pertontonanku' di studio XXI, akhirnya saya nonton total tiga kali. Waddu..., kayak minum obat ya.. Tapi ya, mungkin agak 'lebai', tapi jujur saya sangat menikmatinya, merindukan para laskar cilik yang hebat. jujur pula, rasanya aku ingin bertemu dengan mereka. Andai bisa....!

Setelah Nonton Laskar Pelangi, "Aku Ingin Jadi Lintang" (Bagian 2)




Ini salah satu cerita setelah kami sekeluarga menonton film Laskar Pelangi (baca juga opini saya berjudul 'Film Laskar Pelangi: Oneng dan Lukman Sardi Kurang Pas...).

Salah satu dorongan yang paling kuat buat kami, saya dan istri, adalah mengajak anak kami, Efro, untuk menonton Laskar Pelangi kalau sudah tayang. Tentu hal tersebut karena kami berdua telah membaca novel tetralogi karya Andrea Hirata (LP, Sang Pemimpi, dan Edensor), jauh-jauh hari. Menurut kami, ketiga novel tersebut syarat dengan muatan motivasi dan edukasi.

Sepanjang film ditayangkan, anak kami bertanya-tanya tentang adegan demi adegan yang ada di film. Tak jarang kami juga membisikkan sesuatu ketika ada momen yang bagus dan layak diambil hikmanya. Selain larut dalam adegan demi adegan yang mengharu biru, tak jarang dia tertawa ngakak melihat adegan-adegan lucu dari sepuluh laskar pelangi, terutama Mahar, seniman kecil berbakat yang lucu.

Dan benar saja, ketika keluar dari gedung film, bahkan ketika kami tanya beberapa hari berikutnya, dia menjawab, "Aku mau jadi Lintang". "Lintang aja?" tanya kami. "Sama yang suka nabuh gendang dan nyanyi, siapa Pa namanya?" "Oh..., Mahar'" "Ya," jawabnya mantap.

Kami pun bersyukur banget, ternyata tidak sekadar refreshing, tetapi dengan menonton film LP, ada yang membekas di hati anak kami, yaitu tertular semangan Lintang, si bocah pintar, jagoan SD Muhammadiyah Gantong. Dia cerdas. Usahanya luar biasa untuk bisa sekolah. Mengayuh sepeda puluhan kilometer, bahkan melewati rawa yang bersemayam buaya besar di sana, tak jarang melintang di jalan setapak yang dilewatinya, Lintang tetap semangat demi mendapatkan pengetahuan. Cita-citanya besar. Dia juga yang menjadi pahlawan ketika memenangkan lomba cerdas cermat. Tak tanggung-tanggung, yang dikalahkannya adalah sebuah sekolah terkenal yang dikelola secara mapan oleh PN Timah Belitong.

Tetapi, keberhasilannya, keberhasilan SD reot dengan sepuluh murid, menjadi akhir kisah dan mengubur cita-cita Lintang. Ayahnya yang seorang nelayan, tak kembali lagi (meninggal) saat sedang mencari ikan di laut. Bapaknya seorang nelayan, sedang ibunya sudah meninggal. Peristiwa tersebut menjadi pukulan dahsyat buat anak kecil yang belum lulus SD. Keputusannya untuk tidak lagi bersekolah membuat Bu Mus dan sembilan laskar pelangi lainnya menangisi, menyesali, teramat dalam. Terutama buat Ikal, kepergian Lintang begitu menjadi pukulan hebat. Dia tak kuasa menahan tangis dan mengejar Lintang tantkala dengan bergegas, seusai berpamitan, Lintang mengayuh sepeda dengan cepat. Dan, Lintang pun lagi menoleh ke belakang.

Dalam buku LP, oleh Andrea (Ikal), Lintang digambarkan sebagai sosok jenius yang luar biasa. Kecerdasannya adalah tempahan alam yang penuh dengan segala keterbatasan. Buat Andra, Lintang adalah inspirator sekaligus motivator hebat. Buat Lintang pula, salah satu yang terpenting, ia dedikasikan seluruh usahanya untuk menempuh pendidikan di Universitas Indonesia, bahkan kemudian master di Universitas Sorbone Perancis.

Oleh karena itu, mumpung film Laskar Pelangi masih tayang, para orang tua yang berkesempatan agar mengajak putra-putrinya untuk menonton film ini.

Sekadar informasi, pada hari keepuluh, mulai tayang 25 September, LP ditonton sekitar 1,1 juta orang. Padahal, sampai hari ini, 31 Oktober, LP masih tayang. Bahkan, di Yogya (Amplas=Ambarukmo Plasa), dengan jadwal tayang sebanyak lima kali, antrian masih panjang. Untuk menonton malam, penonton harus antri siang. Itupun terkadang penonton harus pulang dengan kecewa karena tidak mendapat tiket, meski untuk jadwal 21.30, mengingat sampai hari ini masih banyak sekolah atau instansi yang membooking studio untuk nonton bersama.

Artinya, kalau sepuluh hari pertama sebanyak 1,1 juta, lalu pada 31 Oktober jumlahnya berapa? Seminggu ke depan, dua mingu...?

Selamat menonton, semoga terinspirasi dan termotivasi, amin!

Bersambung

Jumat, 10 Oktober 2008

Film Laskar Pelangi: Oneng & Lukman Sardi Kurang Pas...



Tiga hari setelah lebaran, aku memenuhi janji anakku untuk menonton Film Laskar pelangi di SCP samarinda. Antri bbuuuk...! Beli siang untuk malam, tiket ludes. Pas kami membeli, pas juga tinggal tiga tempat duduk, paling depan, tapi ya udah dariapada harus menunggu yang pukul 21.30 atau esok harinya, ya udah sikaaat!

Agar tidak kecewa, meski saya telah membaca buku Laskar Pelangi dan tetraloginya (Sang Pemimpi dan Edensor), saya sudah bersiap menjadikan film Laskar pelangi sebagai karya yang berdiri sendiri, meski tidak lepas dari versi bukunya (ya..pasti, jangan sampai!) Penonton sering komplain, mengapa versi film tidak sedetil versi buku. Ya iyalah, film hanya sekitar 90 menit, sedangkan versi buku ceritanya sangat panjang dan kompleks. Kalau difilmkan utuh bakal menjadi berjam-jam, meski saya juga berharap, versi film seharusnya bisa memotret substansi buku. Ingat, pas Ayat-Ayat Cinta difilmkan, selain banyak yang puas, juga tak sedikit yang merasa kecewa.

Jauh sebelum menonton, saya sudah baca berbagai komentar pembaca buku Laskar Pelangi, di situs-situs atau komentar para blogger. Pro-kontra pasti terjadi, ada yang berharap bisa difilmkan agar imajinasi pembaca bisa divisualkan. Sebaliknya, ada yang tidak berharap film dibuat dengan alasan seringkali film mengacaukan imajinasi pembaca. Buku dianggap lebih bagus. Apalagi buku sekelas Laskar pelangi sudah begitu membumi. Selain itu, pro-kontra terjadi jika dikaitkan dengan casting pemainnya. Untuk yang satu ini, saya juga kadang was-was, jangan-jangan sutradara tidak mendapat pemeran yang pas.

Sebagai penonton, seperti orang pada umumnya, saya juga merasa gimana gitu, ketika mengetahui kalau beberapa 'artis dengan cap di jidat' ikut andil. Contohnya, Tora Sudiro dan Rieke Dyah Pitaloka. Jangankan mereka, beberapa aktor-aktris juga diragukan sebelumnya, seperti Cut Mini dan Lukman sardi.

Secara umum film Laskar pelangi sangat bagus. Yang paling menonjol adalah kemampuan sepuluh aktor lokal anggota Laskar Pelangi. Kemampuan akting mereka tampak natural dan sesuai dengan karakter yang dimaui dalam skenario. Terutama tiga diantaranya, yaitu pemeran Ikal, Lintang, dan Harun, keren banget. Bukan berarti yang tujuh tidak bagus, sangat bagus juga, hanya karena yang tiga perannya lebih banyak dan menonjol, jadi lebih terlihat.

Setingnya bagus. Sentuhan bahasa dan budaya lokal juga sangat mendukung pencitraan film ini. Secara umum, melihat film LP saya yakin merupakan buah kerja yang luar biasa. Meskipun begitu, ada beberapa hal yang semestinya dipertimbangkan lebih dalam sebelum film diproduksi.

Seperti juga keraguan banyak orang, meski aktor-aktris yang membintangi LP sebagian besar sudah mempunyai jam terbang tinggi di sinetron atau film, tetapi sebagaian di antaranya menurut saya 'mengecewakan' dan benar 'mengaduk-aduk imajinasi' yang telah agak mapan.

Meski saya juga yakin, Mira Lesmana dan Riri Reza telah berusaha meng-casting pemain dengan sungguh-sungguh, tetapi terutama kehadiran beberapa pemain, seperti Rieke Dyah Pitaloka (sebagai Ibu Ikal) dan Lukman Sardi (Ikal dewasa), terasa kurang pas, tepatnya 'agak dipaksakan'. Bukannya Rieke tidak berusaha bermain secara bagus, tetapi meski hanya muncul sekitar tiga scene dan itupun tidak panjang, tetapi figur Oneng terasa begitu dekat. Jadi, pas dia muncul, apalagi di bagian-bagian pertama, tanpa dikomando, saat saya menonton, langsung koor: "Oneng.....!" Wadduh, parrah...! Ibu Ikal yang ditunggu jadi buyar. Idealnya untuk film dengan background buku yang begitu dikenal masyarakat, akan lebih aman, jika pemainnya dipilihkan dari pemain-pemain yang tidak begitu 'pasaran' (=sering muncul di televisi atau film). Bila perlu, diambil pemain baru, saya pikir talenta-talenta baru di Indonesia begitu banyak, terbukti pada sepuluh anak LP kan? Apalagi untuk peran kecil, sepertinya Oneng nggak perlu hadir deh.

Untuk Lukman Sardi...??? Ini juga menurut saya bermasalah, kurang, pasnya sih 'tidak cocok'. Sebagai pemain watak, akting Lukman sama sekali bukan dalam ketegori jelek, tetapi nggak pas. Pasalnya, secara figur (fisik) dan karakter tidak pas. Membayangkan Andrea Hirata dan Lukman Sardi serasa bumi dan langit (agak lebay ya.., hehe...). Memang tidak harus sama persis, tapi juga jangan terlalu jauh. Zulfani (Ikal kecil) menurut saya pas sekali: ikal, kalem, friendly, agak chubby, polos tetapi tampak smart. Yang menonjol adalah kalem. Saya membayangkan, itulah Ikal. Menurut saya, sosok dan karakter itu jauh sekali dari Lukman Sardi yang karakternya tampak keras, tidak friendly,terlalu tirus. Singkatnya, ya nggak cocok. Coba Anda cermati! Sayang sekali, padahal Ikal (dewasa) adalah salah satu tokoh sentral. Bahkan menjadi bagian frame penting bagi film ini karena dia muncul di awal dan akhir: pembuka dan ending cerita, sebab film dibuat flash back.

Sedangkan, Cut Mini yang semula juga banyak dipertanyakan oleh pecinta novel LP untuk memerankan Ibu Muslimah, guru yang lembut, sabar, motivator hebat, dan selalu tersenyum, ternyata benar-benar lebur dalam diri Cut Minin. Acung jempol buat dia. bagus banget.

Satu lagi yang semula banyak diperdebatkan oleh para blogger pemerhati LP, yaitu kehadiran Tora Sudiro sebagai guru di sekolah PN Timah. Sosok yang diperankan adalah peran serius, maksudnya bukan komedi. Mengapa diragukan? Sebab, sampai film ini dibuat dan ditayangkan, sosok Tora begitu lekat dengan kekonyolan dalam berperan. Maklumlah, setelah berperan cukup bagus dalam film pertamanya, Arisan besutan Nia Dinata, dan film Banyu Biru yang dibintanginya bersama Dian sastro, kebanyakan peran Tora di film komedi. Alasan paling kuat atas stigma masyarakat bahwa Tora adalah aktor komedi karena keterlibatannya dalam Extravaganza yang identik dengan banyolan dan kebanci-bancian (sinden gosip). Apalagi bersamaan dengan tayangnya LP, film komedi yang dibintangi Tora, Tukul, Luna maya, dan Ria Irawan sedang akan tayang, jadi muncul di promo film sebelum LP tayang, yakni film berjudul Cinlok. Sama seperti Lukman sardi dan Rieke Oneng, bukannya tidak bisa, tetapi pencitraan 'konyol' yang sudah terlanjur menempel buat Tora layak membuat masyarakat ragu. Meski saya juga sepakat, aktor yang baik adalah yang dapat memerankan berbagai peran, tetapi khusus film-film serupa LP, sutradara harus lebih jeli dan mempertimbangkan 'kedekatan' tokoh dan cerita sebaik mungkin.

Akan tetapi, keraguan masyarakat tidak benar-benar terbukti karena Tora benar-benar berusaha membawa dirinya menjadi seorang guru. Tampak sekali Tora berusaha. Meskipun demikian, memang di bagian-bagian awal kemunculannya, saya yakin kebanyakan penonton bergelut dengan skematanya, ini Tora yang di Extravaganza atau guru PN Timah, atau setengahnya? Menurut saya sendiri, jawabannya ya 'setengahnya', lebih dikitlah, sekitar 70%. sedangkan, 30%-nya kurang sempurna. Artinya, Tora tidak gagal membawa peran guru SD PN Timah.

Selebihnya, sebagai sebuah film karya anak bangsa ini, LP patut ditonton oleh semua lapisan masyarakat, lintas usia, lintas agama, lintas profesi. Bahkan, menurut saya, LP layak diikutkan dalam festival film di dunia internasional.

Sebagai sebuah buku yang bercerita tentang usaha yang sungguh-sungguh dalam mendapatkan pendidikan dan menggelutinya dengan luar biasa meski keadaan begitu menghimpit, film LP bisa menjadi motivator yanga luar biasa pula.

Bersambung