Kamis, 11 September 2008

Dawet Hitam Banyumas


Salah satu yang terkenal di daerah Banyumas adalah dawet hitam. Kalau kesana, di sepanjang jalan kita akan menemui para penjual minuman segar bersantan tersebut. Bahkan di jalan-jalan yang jauh dari pemukiman penduduk, misalnya di jalan-jalan raya dekat persawahan, dengan mudah kita dapat menjumpainya. Sambil melepas lelah, kita dapat menikmati miniman tersebut di gubuk-gubuk kecil di bawah rindang pohon dan semilir angin perswahan yang berhembus sejuk. Sebuah perpaduan yang indah dan nikmat. Abdul Hakim

Batur Raden Purwokerto






























Meski belum pernah pergi ke Batur Raden Purwokerto, tentu Anda sudah mengenal, minimal pernah mendengar tempat wisata tersebut. Sebab, selain sebagai tempat wisata, daerah Batur Raden juga dikenal sebagai tempat kegiatan perkemahan parmuka nasional. Bagi yang sudah pernah kesana, tentu Anda telah mengetahui bahwa tempat wisata tersebut berada di pegunungan yang lumayan sejuk. Di tempat tersebut juga terdapat pemandian air panas yang konon dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

Tempat ini semakin tekenal ketika beberapa tahun yang lalu menelan beberapa korban ketika jembatan gantung yang dipadati pengunjung terputus dan para wisatawan berjatuhan ke dasar sungai yang berbatu. Jika sekarang kesan, maka jembatan gantung tersebut sudah berganti dengan jembatan beton permanen. Jadi, Anda tidak perlu deg-degan lagi saat melintasi jemabatan yang di bawahnya dialiri air dari pegunungan dengan bebatuan hitam yang khas tersebut.
satu lagi, kalau sebelumnya Anda mengira bahwa tempat tersebut bernama Batu Raden, tentu Anda slah, karena yang benar adalah Batur (memakai R) yang berarti teman atau pembantu sang Raden sehingga menjadi Batur Raden. Abdul Hakim

Pasar Ramadhan di UGM


Sudah menjadi tradisi bahwa setiap ramadhan tiba maka di berbagai tempat akan disemarakkan oleh kehadiran pasar ramadhan. Pasar kaget yang rata-rata dimulai selepas ashar tersebut biasanya menjula berbagai makanan dan jajanan khas ramadhan. Kehadiran pasar-pasar tersebut memberi pemandangan yang berbeda dari hari-hari biasa. Sambil menunggu bedug maghrib tiba, masyarakat bisa membeli berbagai makanan untuk berbuka.
Salah satu pasar ramadhan di Yogyakarta, digelar di UGM. Beberapa ruas jalan menjadi tempat mangkal para penjual. Selain di depan pintu gerbang UGM, juga di sepanjang jalan dekat lembah, peternakan, dan depan masijid kampus. Area ini memang biasanya digunakan berjualan oleh para pedagang pada pasar mingguan atau yang biasa dikenal masyarakat sekitar UGM sebagai kegiatan Sunday Morning.
Yang tampak berbeda dengan pasar ramadhan lainnya, di sekitar UGM meskipun jualannya beragam, tetapi yang paling dominan adalah minuman segar, terutama penjual sup buah yang berjajar panjang. Tampilan dagangan mereka sangat mengoda karena berbagai buah segar sebagai daya pikat digantung di rombong mereka, mulai dari blewah, melon, pisang, kelengkeng, durian, dan lain-lain. Pada hari-hari biasa, mereka juga berjaualan di seputar UGM, tetapi pada ramadhan jumlah mereka semakin bertambah banyak.
Ingin mencicipi kesegarannya, silakan datang bersama teman atau keluarga sambil menunggu bedug tiba. Abdul Hakim

Rabu, 03 September 2008

Upaya Menjadikan UNY sebagai Trendseter Pendidikan Karakter




Berikut sedikit catatan yang saya buat dari Semiloka (Seminar dan Lokakarya) Pendidikan Karakter yang diadakan oleh Universitas Negeri Yogyakarta pada tanggal 29 Juli 2008.

Terus terang ketika Profesor Darmiati Zuhdi, M.Ed. menginformasikan kepada kami, teman-teman satu kelas yang beliau ajar, tentang akan diadakannya Semiloka Pendidikan Karakter di UNY, kami langsung tertarik. Sayangnya, acara tersebut peserta dan ruangnya terbatas, jadi kami tidak bisa mengikuti. Akan tetapi, alhamdulillah, meski hanya lewat layar monitor, akhirnya kami disiapkan tempat oleh panitia sehingga kami bisa mengikutinya. Kami berterima kasih kepada Bu Zuhdi selaku ketua panitia acara tersebut.

Khususnya saya, terus terang tertarik untuk hadir dalam acara tersebut mengingat yang memberi materi adalah salah satu motivator dan presentator yang hebat, yakni Dr. (HC) Ary Ginanjar Agustian. Penulis buku best seller ESQ sekaligus pendiri ESQ Leadership Center yang mendapat gelar DR.HC. dari UNY pada 17 Desember 2007 tersebut menyampaikan makalah berjudul Pembentukan Habit Menerapkan Nilai-Nilai Relegius, Sosial, dan Akademik. Selain itu, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat juga hadir untuk menyampaikan makala berjudul Life’s Journey With Inner Guides.

Terus terang saya sudah kangen mendengar suara mantap dan pencerahan dari Ary setelah sekian lama tidak bertemu. Pertama bertemu ketika saya mengikuti ESQ yang diselenggarakan PT Pupuk Kaltim di Bontang tahun 2004 (Angkatan Pertama di PKT). Setelah itu, sebagai alumni, saya masih sempat beberapa kali bertemu pada penyelenggaraan ESQ di Bontang untuk angkatan berikutnya. Terakhir bertemu pada temu alumni se-kaltim di Balikpapan (tahun berapa ya…? Lupa!). Kok jadi menceritakan sejarah masa lalu begini, hehe… Sekadar mengingat-ingatlah.

Dan berikut, bukanlah resume pada semiloka tersebut. Ini hanya catatan kecil buat UNY pascakegiatan itu.

Wacana tentang pendidikan karakter bukanlah hal baru yang digagas dalam berbagai tulisan, dialog, maupun seminar. Akan tetapi mewujudkannya menjadi sebuah realitas sosial yang membudaya pada setiap lapisan masyarakat tentu masih jauh dari nilai yang dianggap cukup. Oleh karena itu, upaya UNY untuk mengangkat kembali tema pendidikan karakter dalam sebuah semiloka tentu patut mendapat acungan jempol. Terlebih jika melihat narasumber yang menggawangi kegiatan tersebut adalah tokoh-tokoh yang kompeten di bidangnya, yakni Ary Ginanjar Agustian dan Komaruddin Hidayat. Kita tentu berharap, kegiatan tersebut akan ditindaklanjuti oleh UNY dengan merumuskan konsep-konsep yang aplikatif dan dapat dijadikan contoh bagi masyarakat, khususnya di UNY. Jika berhasil, tentu bukan harapan yang berlebihan kepada UNY, di kemudian hari akan menjadi trendsetter, terutama bagi dunia pendidikan di Indonesia.

Membicarakan sedikit tentang hal-hal yang dibahas Ary Ginanjar dalam kegiatan tersebut, menurut saya cukup bagus. Konsep Tujuh Budi Utama (jujur, tanggung jawab, visioner, disiplin, kerjasama, adil, dan peduli) yang sebenarnya telah diwacanakan Ary sejak tahun 2001 pada kegiatan ESQ merupakan kunci-kunci yang layak diaplikasikan. Begitu juga dengan konsep pendayagunaan Enam Inner Guide (Sifat Dasar) Manusia (orphan = ketidakberdayaan, tergantung, wonder = tidak bisa diam, warrior = bersaing, bertempr, berantem, berkelahi, altruism = tidak ideot, innocent = bebas, merdeka, magician = tukang sulap) yang disampaikan oleh Komaruddin Hidayat jika diaplikasikan akan dapat memotivasi manusia untuk berbuat yang lebih baik secara kontinue.

Berdasarkan kegiatan tersebut UNY selayaknya membuat konsep-konsep yang merupakan perpaduan berbagai pendapat yang berorientasi pada kemudahan dan keefektifan untuk dipahami dan diterapkan. Memang tidak mudah, pasti ada pro kontra. Ada yang aktif dan pasif. Akan tetapi, jika diupayakan sunggung-sungguh tentu tidak ada pekerjaan yang tidak mungkin dan sia-sia.

Seluruh komponen di UNY harus bersinergi untuk mewujudkan hal tersebut. Pribadi-pribadi yang selama ini telah komitmen menjadi pribadi yang santun, ramah, dan bertanggung jawab di lingkungan kampus bisa dijadikan model berjalan. Kepedulian akan hal ini terutama harus dipahami dan diterapkan oleh para pendidik yang berinteraksi secara langsung dan terus-menerus dengan peserta didik. Elemen lainnya juga harus sepaham dan sejalan untuk menjadikan UNY khususnya, dan masyarakat pada umumnya, sebagai manusia yang bermartabat karena mempunyai karakter yang baik. (Abdul Hakim)

Foto Ary by www.uny.ac.id, Komaruddin Hidayat by tokohindonesia.com


20 Hal Penting Jadi Presenter

Berikut adalah dua puluh hal penting agar bersinar jadi host/presenter.

  1. Mengenali audiens
  2. Kaya pengetahuan umum, bukan hanya masalah yang menjadi interest pribadi
  3. Tunjukkan empati Anda
  4. Antusias
  5. Punya passion setiap membahasa persoalan
  6. Tangguh, tetapi tidak menonjol atau memonopoli pembicaraan
  7. Ajukan pertanyaa, lantas dengar dan simak jawabannya
  8. Jangan mengadili
  9. Selebriti dan tokoh publik juga manusia
  10. Enyahkan leading questions!
  11. Punya selera humor yang baik
  12. Jeli menggali sesuatu yang baru
  13. Natural, tidak dibuat-buat
  14. Punya gaya sendiri (karakter orisinal)
  15. Akrab pada tamu, tetapi tidak berlebihan
  16. Siap mengatasi keseleo lidah
  17. Miliki staf data dan riset sebagai bagian dari tim kreatif Anda
  18. Tampil hanya pada satu talk show
  19. Lakukan secara playful
  20. Memiliki jejaring (networking) yang luas.

Lusia, Amelia. 2006.Oprah Winfrey:Rahasia Sukses Menaklukkan Panggung Talk Show.
Jakarta: Gagas Media

Abdul Hakim

Sabtu, 30 Agustus 2008

Perang Bendera, Spanduk, Baliho Parpol: Wajah Kota Jadi Semrawut

Pemilu 2009 masih jauh. Akan tetapi, semarak bendera, baliho, dan spanduk para parpol peserta pemilu yang telah disahkan oleh KPU telah mengubah wajah hampir di seluruh daerah menjadi kurang sedap. Meskipun belum semua parpol beramai-ramai memasang atributnya sebagai langkah sosialisasi dan kampanye, tetapi kesemrawutan mulai tampak. Apalagi, jika nanti semua parpol serentak memasangnya. Wajah Indonesia akan seperti Nano Nano.
Mengingat parpol peserta pemilu 2009 lebih dari tiga puluh, sejak awal tata tertib tentang pemasangan atribut harus disampaikan agar pemasangan atribut bisa tertib dan enak dipandang.
Saat ini sudah banyak parpol yang memasang atribut dengan tidak rapi, sembarangan, bahkan ada yang dengan enaknya memaku pohon untuk menempelnya. Sungguh tidak berwawasan lingkungan alias tidak berkepripohonan. Pemerintah harus tegas melarang parpol menempel atribut, seperti pamflet atau stiker, di pohon-pohon, tiang listrik, tiang telepon, maupun pagar-pagar dan tembok yang menjadi fasilitas umum, seperti yang biasa dilakukan oleh para peserta Pilkada akhir-akhir ini. Selain tidak enak dipandang, juga tampak kotor.
Harus ada kesadaran semua pihak (parpol) untuk secara tertib memasang atribut agar wajah kota tidak menjadi semrawut.

Ketika Karnaval Sekadar Seremonial

Bulan Agustus 2008 yang menandai HUT RI ke-63, hari ini memasuki penghujungnya. Hiruk pikuk upacara, lomba, dan karnaval yang menjadi ritual sesaat pun telah usai. Masihkah ada titik yan membekas di dada sebagai tanda bahwa kita memang masih cinta dan bersemangat untuk menopang berdirinya bangsa ini sebagai bangsa yang kokoh, bangsa dengan semangat lomba, upacara, dan karnaval yang gegap gempita. Semoga semangat Agustusan-an terus ada, bukan hanya pada bulan Agustus, tetapi juga pada sebelas bulan lainnya. Serupa dengan harapan kita, semoga ramadhan yang menjelang esok hari, akan kita lalui dengan semangat tinggi yang akan menjadi nutrisi buat kelangusngan hidup kita selama sebelas bulan berikutnya. Amin.