Senin, 06 Oktober 2008

Pemanfaatan Iklan Televisi Sebagai Media Pembelajaran Menulis Puisi

Artikel tulisan saya tersebut bisa Anda baca di http://pelangi.dit-plp.go.id// pada main menu: artikel. Sudah agak lama sih buatnya... Dimuat di Majalah pelangi Pendidikan juga.

Kamis, 02 Oktober 2008

Refleksi Idul Fitri 1429 H

Beberapa hari ini umat muslim sedunia sedang bergembira merayakan kemenangan ramadhan. Idul Fitri yang jatuh pada 1 Oktober 2008 seperti pada Idul fitri-Idul Fitri sebelumnya selalu marak dengan kesibukan mudik, petasan, kembang api, kue-makanan lebaran, baju baru, takbiran, kemudian saling bermaafan. Pokoknya Idul Fitri selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Meski tak jarang diwarnai oleh keributan pembagian zakat yang berujung kepada tragedi kematian atau luka-luka, pencurian saat rumah ditinggal tarawih atau ditinggal mudik, serta berbagai kecelakaan maut yang begitu mengiris, tetapi warna bahagia dan riuh kegembiraan selalu menjadi menu utama hari lebaran.

Aktivitas menonjol dari ritual berlebaran adalah saling bermaafan. Alhamdulilah, pada saat lebaran selalu terbuka celah untuk saling mendekatkan diri dan saling memberi dan menerima maaf. Agar ritual tersebut membekas, masing-masing individu harus mempunyai niatan yang ikhlas bahwa ritual bermaafan tidak sekadar terucap dan saling berjabat tangan. Lebih dari itu, harus dimunculkan dari keasadaran hati yang mantap bahwa hidup dalam kebersamaan dan kedamaian jauh lebih indah dan bermakna.

Ada kata-kata/kalimat bijak yang dapat menjadi pengingat buat kita, yakni lupakan kebaikan kita kepada orang lain, tetapi ingat kebaikan orang kepada kita. Ingat kesalahan kita kepada orang lain, lupakan kesalahan orang kepada kita. Dengan kata lain, maksud tersebut juga bisa diungkapkan dengan peribahasa: ukir kebaikan orang di atas batu dan ukir kesalahannya di atas pasir.

Pengingat di atas terasa sangat bijak agar kita tidak menjadi pendendam, sebaliknya menjadi pribadi pemaaf. Sebaliknya, mengingat kesalahan kita kepada orang lain adalah salah satu bentuk upaya agar kita tidak mengulangi kesalahan kepada orang lain. Kita juga hendaknya tidak mengingat kebaikan-kebaikan kepada orang lain karena akan menghambat kita untuk berbuat kebaikan-kebaikan lainnya. Dengan mengingat kebaikan yang pernah dilakukan, kita akan merasa telah banyak berbuat sehingga menutup pintu untuk berbuat yang lebih baik dan banyak lagi.

Ukir kebaikan orang di atas batu agar kebaikan tersebut menginspirasi kita untuk berbuat baik pula. Ukir kesalahan orang di atas pasir agar ketika waktu berlalu dan ombak menghempas, amaka ukiran itu akan rata, akan hilang, dan dendam-amarah dalam hati kita pun sirna.

Selamat Idul Fitri semoga kita kembali fitrah. Amin.

Abdul Hakim

Met Idul Fitri 1428 H

Dalam segala upaya selalu ada celah berbuat salah
Selalu ada warna kelabu meski kuingin warna biru
Selalu ada rasa pahit meski kuingin beri rasa legit
Buka maaf untuk kami
Agar hidup berasa damai
Selamat Idul Fitri
Semoga berkah Allah melimpahi
Amin!

Hakim Sekeluarga

Rabu, 17 September 2008

Buka Bersama Teman: Ketika Hidup Harus terpisah, Hiks...!




Ya beginilah nasib jauh dengan keluarga., berasa gimana gitu.... Pas puasa soalnya. Sore jelang senja hunting makanan untuk berbuka, lalu jam 02.30 atau 03.00 menembus malam untuk berburu makanan sahur. Akan tetapi, sejauh ini sih berusaha menikmati aja biar berasa agak enakan, hehe... Biar seru dan rame, untuk berbuka kami para "bujangan sementara" janjian di suatu temapt untuk berbuka bareng. Salah satunya di sekita lembah UGM. Biasalah, lesehan pinggir jalan. Ya.. lumayanlah, berasa dengan keluarga. maklum sudah akrab.

Jumat, 12 September 2008

Fenomena Aksi Tempel Tak Berwawasan Lingkungan






Tampaknya harus ada undang-undang yang mengandung sanksi agar masyarakat tidak seenaknya menempel pengumuman, iklan, dan sejenisnya pada fasilitas umum, pohon, dan lain-lain. Menurut saya, para pelaku sangat tidak berwawasan lingkungan dan estetika. Dari segi lingkungan, mereka telah "menyakiti" pepohonan dengan aksi main paku secara sembarangan. Ingat dan catat, pohon juga makhluk hidup yang layak dilindungi, disayangi, dan dirawat. Saya masih teringat, beberapa tahun lalu diberitakan profilnya di televisi kisah seorang pecinta lingkungan yang sangat peduli dengan lingkungannya. Sang tokoh yang saya lupa identitasnya, bekerja secara sukarela membersihkan pepohonan dari tempelan-tempelan dan mencabuti paku yang menancap di pepohonan. Kita tentu paham bahwa yang peduli seperti itu hanya satu dua orang, sementara yang melakukan aksi tidak terpuji begitu banyaknya. Tentu sangat tidak seimbang. Maka wajar jika sampai saat ini kita dengan mudah melihat berbagai iklan dan pengumuman membebani batang-batang pohon, tiang telepon, maupun tiang listrik. Tak jarang, tempelan-tempelan itu bertengger selamanya, meski sudah tampak lusuh, usang, dan tak diperlukan lagi. Sisa-sisa tempelan kertas maupun stiker tak mudah terkelupas dari tiang-tiang telepon maupun listrik. Pemandangan yang sama sekali tidak estetis. Ironisnnya, sebagian pemasang adalah mereka yang berstatus perusahan besar seperti perusahan seluer yang tentu secara administrasi kemungkinan sudah mendapat izin untuk pemasangannya. Lalu bagaimana pemda bisa melakukan hal itu? Aneh! Sampai kapan fenomena seperti itu terus berlangsung? Mari kita hindarkan perilaku-perilau seprti itu agar lingkungan sekitar terjaga keasrian dan estetikanya. Coba lihat beberapa foto yang yang sempat saya abadikan di beberapa lokasi di Klaten dan Yogyakarta di atas. Abdul Hakim

Kamis, 11 September 2008

Seni Mural Nan Elok di Yogyakarta





Perkembangan seni corat-coret di tempat-tempat terbuka di Yogyakarta, misalnya di dinding stadion, pilar jalan layang, atau tempat-tempat terbuka lainnya yang berdinding, sampai saat ini masih menjadi pemandangan yang menawan. Mural bukanlah corat-coret asal dan tak bermakna, tetapi mengedapankan keindahan dan pesan-pesan untuk penikmatnya. Bukan pula sekadar grafiti yang sekadar menuliskan nama gang, kelompok, atau slogan tertentu, yang kecenderungannya sulit dinikmati atau dibaca. Mural di Yogyakarta sekaligus memberi contoh baik kepada anak muda yang hobi corat-coret agar menghasilkan karya yang baik. Tidak sekadar coret sana, coret sini, pada tempat yang salah pula. Seni Mural di Yogyakarta banyak bisa kita nikmati pada sudut-sudut jalan, stadion, pagar, dan lain-lain. Gambar di atas adalah beberapa karya mural yang sempat saya abadikan. Ada yang mengangkat tema keindahan alam, wayang, pesan sosial, dan lain-lain. Adul Hakim

Kematian dalam Video Klip Indonesia

Kalau Anda mengamati, maka ada kecenderungan pembuat video klip Indonesia menggunakan konsep serupa, yaitu tema kematian. Yang dimakud tema kematian adalah jika adalam video klip tersebut diceritakan tentang kematian, baik karena sakit, kecelakaan, maupun pembunuhan. Jumlah relatif banyak. Kebetulan beberapa di antaranya sukses di pasaran. Saya tidak tahu mengapa tema yang mengususng kematian menjadi trend.
Sebagian kecil saja lagu yang bercerita kematian sehingga tentu logis jika video klipnya pun berkisah hal yang sama. Sebagaian besar lainnya, cerita dari lirik lagu jauh dari berkisah tentang kematian. Entah apa yang mendorong para sineas pembuat klip maupun para penyanyi solo atau band menyetujui konsep tersebut.
Padahal, menurut saya, ketika sebuah cerita dalam video klip membatasi diri pada satu konsep kematian maka penikmat musiknya akan terbayang bahwa cerita yang dimau oleh lagu adalah tentang kematian. Akan lebih universal jika bukan tema itu yang diangkat. Aakan tetapi nyatanya beberapa lagu yang dibuatkan video klipnya dengan mengusung tema kematian sukses di pasaran. Beberapa yang lainnya biasa-biasa aja. Hal tersebut sangat bergantung dari kualitas musikal si penyanyi. Meski berperan penting, tetapi video klip sekadar pendukung untuk komersialisasi produk, yaitu lagu yang dibuat si penyanyi.
Beberapa band atau penyanyi yang video klipnya mengangkat kematian di antaranya: Ungu (demi Waktu), Drive (Bersama Bintang), Pingkan Mambo (Bagai Kekasih yang Tak Dianggap), Wali (Dik & Egokah Aku), Caramel (Tinggal Kenangan/Jauh), Seventeen (Sealalu Mengalah), Kerispatih (Mengenangmu), Ada Band (Baiknya), Coklat (Bukan Hari Ini), Keyla (Menutup Mata), Naff (Kaulah Hidup dan Matiku), dan masih ada beberapa karya lagi.
Benarkah tema seperti itu memang disukai oleh penikmat musik? Atau para kreator tak lagi punya alternatif ide yang lebih cemerlang dan inovatif? Abdul Hakim