Selasa, 07 Oktober 2008

Pasang Banner KapanLagi.Com

Pasang banner KapanLagi.com di Situs/Blog/Friendster kamu, dan dapatkan hadiah
Rp. 50.000.000,- untuk 10 (sepuluh) Friends beruntung yang akan diundi tanggal
20 Desember 2008.

Buruan!!! Gratis koq, gak dipungut biaya sepeserpun. Caranya, lihat di KapanLagi.com

Senin, 06 Oktober 2008

Jangan Menggerutu!

Bertemu dengan orang yang sifat, lagak-lagu, cara berdandan, maupun cara berbicaranya tidak sesuai dengan yang kita (secara umum) inginkan seringkali membuat kita jadi nggedumel, mangkel, alias kesel. Ujung-ujungnya rasa nggak enak ati tersebut membuat kita malas bertemu, antipati, dan underestimed. Tak jarang kemudian kita membicarakannya dengan orang-orang di sekeliling atau orang-orang terdekat. Kita memberi komentar-komentar yang bernada jengkel dan mengolok. Ibarat kata, kalau diverbalkan begitu maka akan berbunyi, "Ciih...!" sambil melengos atau meludah (lebai dikit, hehe...).

Sebenarnya, kalau da orang yang "aneh", lalu dengan spontan keluar komentar kita tentang hal tersebut, di satu sisi memang sesuatu yang alamiah. Di sisi lain, akan menjadi tidak bijak jika kemudian hal tersebut berkembang menjadi bahan rasan-rasan secara tak terputus. Memang agak susah seh kalau kita melihat atau mendengar sesuatu yang "ganjil" dan tidak berkomentar, pasti secara umum kita akan berkomentar atau berseloroh, meski sekadar mengumpat dalam hati.

Agar bermanfaat, maka dalam waktu yang bersamaan, saat kita menyaksikan keanehan, kelemahan, atau kekuarangan orang, maka kita kemudian berkaca, berefleksi agar tidak seperti dia karena kita mengetahui bahwa hal tersebut ternyata tidak baik. Jadi, kita mengambil sisi baik dari sisi buruknya. Mengambil sisi positif dari sisi negatifnya. Menghindarkan diri dari menggerutuinya, sebaliknya mengambil hikmahnya.

Aapabila mungkin--ada keberanian, kesempatan, materi (bahan) perbaikan--, maka akan jauh lebih baik dan bermanfaat jika kita menyampaikan kepada seseorang itu akan kekurangannya. Daripada kita membuang-buang energi dengan membicarakannya dalam debat kusir, diskusi kelompok tak bertema, lebih baik energi positif kita salurkan dengan cara-cara yang tidak baik.

Akan tetapi, lagi-lagi, saya yakin kita sepakat bahwa ternyata untuk tidak membicarakan, sebaliknya memberi masukan, ternyata bukan perbuatan yang mudah, sangat sulit malah. Bukankah begitu?

Oleh karena tidak mudah, maka kita harus mencobanya dengan sedikit demi sedikit. Problem utamanya, biasanya menyangkut keberanian kita berbicara kepada "orang tersebut". Dilemanya, jangan-jangan dia tersinggung atau jangan-jangan dia tidak terima karena dia tidak merasa bahwa dia mempunyai kekuarangan seperti yang kita maksudkan. Nah, semakin susah kan?

Akan tetapi, bagaimanpun keadaannya, kita harus tetap berkemauan positif untuk tidak membicarakan sesuatu secara negatif tanpa memberi solusi. Sah-sah saja menurut saya membicarakan sesuatu yang menjadi fenomena dalam kehidupan kita, tetapi sekali lagi, jangan sekadar menggerutu, mari berbagi untuk saling mengisi.

Mari menjadi orang yang tidak sekadar jago mengkritik, tetapi juga legawa untuk dikritik. Agar kritikan kita dapat diterima maka kita harus belajar berbicara dengan bijak, dengan pilihan kata yang santun, dan cara yang santun pula. Di sisi lain, kita harus selalu siap diberi masukan, siapa tahu masukan-masukan tersebut berpengaruh positif kepada kita.

Pemanfaatan Iklan Televisi Sebagai Media Pembelajaran Menulis Puisi

Artikel tulisan saya tersebut bisa Anda baca di http://pelangi.dit-plp.go.id// pada main menu: artikel. Sudah agak lama sih buatnya... Dimuat di Majalah pelangi Pendidikan juga.

Kamis, 02 Oktober 2008

Refleksi Idul Fitri 1429 H

Beberapa hari ini umat muslim sedunia sedang bergembira merayakan kemenangan ramadhan. Idul Fitri yang jatuh pada 1 Oktober 2008 seperti pada Idul fitri-Idul Fitri sebelumnya selalu marak dengan kesibukan mudik, petasan, kembang api, kue-makanan lebaran, baju baru, takbiran, kemudian saling bermaafan. Pokoknya Idul Fitri selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Meski tak jarang diwarnai oleh keributan pembagian zakat yang berujung kepada tragedi kematian atau luka-luka, pencurian saat rumah ditinggal tarawih atau ditinggal mudik, serta berbagai kecelakaan maut yang begitu mengiris, tetapi warna bahagia dan riuh kegembiraan selalu menjadi menu utama hari lebaran.

Aktivitas menonjol dari ritual berlebaran adalah saling bermaafan. Alhamdulilah, pada saat lebaran selalu terbuka celah untuk saling mendekatkan diri dan saling memberi dan menerima maaf. Agar ritual tersebut membekas, masing-masing individu harus mempunyai niatan yang ikhlas bahwa ritual bermaafan tidak sekadar terucap dan saling berjabat tangan. Lebih dari itu, harus dimunculkan dari keasadaran hati yang mantap bahwa hidup dalam kebersamaan dan kedamaian jauh lebih indah dan bermakna.

Ada kata-kata/kalimat bijak yang dapat menjadi pengingat buat kita, yakni lupakan kebaikan kita kepada orang lain, tetapi ingat kebaikan orang kepada kita. Ingat kesalahan kita kepada orang lain, lupakan kesalahan orang kepada kita. Dengan kata lain, maksud tersebut juga bisa diungkapkan dengan peribahasa: ukir kebaikan orang di atas batu dan ukir kesalahannya di atas pasir.

Pengingat di atas terasa sangat bijak agar kita tidak menjadi pendendam, sebaliknya menjadi pribadi pemaaf. Sebaliknya, mengingat kesalahan kita kepada orang lain adalah salah satu bentuk upaya agar kita tidak mengulangi kesalahan kepada orang lain. Kita juga hendaknya tidak mengingat kebaikan-kebaikan kepada orang lain karena akan menghambat kita untuk berbuat kebaikan-kebaikan lainnya. Dengan mengingat kebaikan yang pernah dilakukan, kita akan merasa telah banyak berbuat sehingga menutup pintu untuk berbuat yang lebih baik dan banyak lagi.

Ukir kebaikan orang di atas batu agar kebaikan tersebut menginspirasi kita untuk berbuat baik pula. Ukir kesalahan orang di atas pasir agar ketika waktu berlalu dan ombak menghempas, amaka ukiran itu akan rata, akan hilang, dan dendam-amarah dalam hati kita pun sirna.

Selamat Idul Fitri semoga kita kembali fitrah. Amin.

Abdul Hakim

Met Idul Fitri 1428 H

Dalam segala upaya selalu ada celah berbuat salah
Selalu ada warna kelabu meski kuingin warna biru
Selalu ada rasa pahit meski kuingin beri rasa legit
Buka maaf untuk kami
Agar hidup berasa damai
Selamat Idul Fitri
Semoga berkah Allah melimpahi
Amin!

Hakim Sekeluarga

Rabu, 17 September 2008

Buka Bersama Teman: Ketika Hidup Harus terpisah, Hiks...!




Ya beginilah nasib jauh dengan keluarga., berasa gimana gitu.... Pas puasa soalnya. Sore jelang senja hunting makanan untuk berbuka, lalu jam 02.30 atau 03.00 menembus malam untuk berburu makanan sahur. Akan tetapi, sejauh ini sih berusaha menikmati aja biar berasa agak enakan, hehe... Biar seru dan rame, untuk berbuka kami para "bujangan sementara" janjian di suatu temapt untuk berbuka bareng. Salah satunya di sekita lembah UGM. Biasalah, lesehan pinggir jalan. Ya.. lumayanlah, berasa dengan keluarga. maklum sudah akrab.

Jumat, 12 September 2008

Fenomena Aksi Tempel Tak Berwawasan Lingkungan






Tampaknya harus ada undang-undang yang mengandung sanksi agar masyarakat tidak seenaknya menempel pengumuman, iklan, dan sejenisnya pada fasilitas umum, pohon, dan lain-lain. Menurut saya, para pelaku sangat tidak berwawasan lingkungan dan estetika. Dari segi lingkungan, mereka telah "menyakiti" pepohonan dengan aksi main paku secara sembarangan. Ingat dan catat, pohon juga makhluk hidup yang layak dilindungi, disayangi, dan dirawat. Saya masih teringat, beberapa tahun lalu diberitakan profilnya di televisi kisah seorang pecinta lingkungan yang sangat peduli dengan lingkungannya. Sang tokoh yang saya lupa identitasnya, bekerja secara sukarela membersihkan pepohonan dari tempelan-tempelan dan mencabuti paku yang menancap di pepohonan. Kita tentu paham bahwa yang peduli seperti itu hanya satu dua orang, sementara yang melakukan aksi tidak terpuji begitu banyaknya. Tentu sangat tidak seimbang. Maka wajar jika sampai saat ini kita dengan mudah melihat berbagai iklan dan pengumuman membebani batang-batang pohon, tiang telepon, maupun tiang listrik. Tak jarang, tempelan-tempelan itu bertengger selamanya, meski sudah tampak lusuh, usang, dan tak diperlukan lagi. Sisa-sisa tempelan kertas maupun stiker tak mudah terkelupas dari tiang-tiang telepon maupun listrik. Pemandangan yang sama sekali tidak estetis. Ironisnnya, sebagian pemasang adalah mereka yang berstatus perusahan besar seperti perusahan seluer yang tentu secara administrasi kemungkinan sudah mendapat izin untuk pemasangannya. Lalu bagaimana pemda bisa melakukan hal itu? Aneh! Sampai kapan fenomena seperti itu terus berlangsung? Mari kita hindarkan perilaku-perilau seprti itu agar lingkungan sekitar terjaga keasrian dan estetikanya. Coba lihat beberapa foto yang yang sempat saya abadikan di beberapa lokasi di Klaten dan Yogyakarta di atas. Abdul Hakim